Gunung itu?

KEMATIAN TIDAK DAPAT DIPERCEPAT DGN NAIK GUNUNG……

JUGA TIDAK DAPAT DIPERLAMBAT DGN TIDAK NAIK GUNUNG……

DAN GUNUNG BUKANLAH SESUATU YANG MENAKUTKAN……….

MELAINKAN SALAH SATU YANG TERINDAH DI MUKA BUMI INI.

KITA TAKAN PERNAH MENEMUKAN INDAHNYA EDELWEIS YANG HARUM DAN TAKAN PERNAH MELIHAT SUNSET/SUNRISE TERINDAH DAN KITA JUGA TAKAN PERNAH MERASA BERDIRI DIATAS AWAN KECUALI DENGAN KITA NAIK GUNUNG………….

oleh: Pendakijogja’s Blog

10 tips untuk pendakian gunung

Image

Mountaineering adalah sebuah kegiatan besar diluar Ruangan untuk mendapatkan badan Anda yang bugar dan sehat melalui tantangan dan juga latihan menyenangkan. Apakah ingin mendaki gunung di negeri ini atau di luar negeri, tubuh Anda pasti akan menghadapi beberapa tantangan kunci kebugaran, sehingga membaca tips utama kami sebelum memulai …

1.Training for mountaineering / Pelatihan untuk pendakian gunung
Mountaineering adalah sebuah pengejaran yang tidak boleh dilakukan tanpa pemahaman yang baik tentang berbagai aspek yang terlibat, mulai dari  membaca Peta dan keterampilan navigasi untuk tali temali dan pemahaman cuaca gunung. Anda pasti harus mempertimbangkan pemesanan sampai dengan menawarkan nasihat pakar organisasi terkemuka seperti di Plas-y-Brenin (Nasional Gunung Centre) atau Bergerigi Globe, yang menawarkan program perkenalan gunung yang sangat baik sampai ke ekspedisi dipandu ke puncak dunia 8.000 mdpl.

2. Preparation and planning for mountaineering / Persiapan dan perencanaan untuk pendakian gunung
Luangkan waktu untuk merencanakan dan mempersiapkan diri untuk pendakian Anda.  Ini akan menghabiskan waktu dengan baik dan kemungkinan Anda memiliki pendakian yang sukses dan menyenangkan akan jauh lebih tinggi jika Anda telah mempersiapkan dengan baik. Luangkan waktu untuk merencanakan rute Anda dan mempersiapkan kit Anda terlepas dari apakah Anda pergi untuk mendaki gunung kecil/ perjalanan pendek atau sebuah ekspedisi dalam jangka waktu yang panjang, beberapa perencanaan yang matang dapat membuat semua perbedaan. rencanakan dengan hati-hati juga, selalu periksa kit Anda.

3. Footwear for mountaineering exercise / Alas kaki untuk latihan mountaineering
Pastikan Anda berinvestasi di sepasang sepatu gunung kasar. Untuk musim panas anda dapat pergi kesepasang bukit dan berjalan dengan sepatu bot, tapi untuk musim dingin gunung yang crampon rate boot akan dibutuhkan. Kunjungi toko yang akan menawarkan saran yang baik pada mountaineering boot terbaik sesuai dengan kebutuhan Anda.

4. Food for mountaineering / Makanan untuk pendakian gunung
Pastikan untuk membawa banyak makanan (dan air ) pada setiap perjalanan pendakian gunung. Makanan yang menghasilkan energi tinggi dan ringan. Banyak makanan berenergi tinggi dan makanan kemasan yang kini tersedia. Makanan dapat membuat atau menghancurkan ekspedisi jadi pastikan makanan yang Anda bawa adalah sesuatu yang enak dan menyenangkan juga. Hal ini penting pada setiap perjalanan pendakian gunung untuk membawa ransum darurat jika anda berada di gunung lebih lama dari yang diantisipasi.

5. Weather watching before mountaineering / melihat Cuaca sebelum pendakian gunung
Sebelum memulai perjalanan pendakian gunung apapun pastikan Anda mendapatkan ramalan cuaca lokal. Anda selalu dapat menunda upaya kepuncak untuk hari lain, dengan kondisi cuaca yang lebih menguntungkan. Namun, setelah Anda berada pada rute pendakian gunung Anda akan sering melakukan dengan sedikit pilihan untuk mundur sehingga memeriksa cuaca di muka adalah suatu keharusan!

6. Emergency shelter when mountaineering / Hunian darurat saat digunung
Terlalu banyak kecelakaan dan cedera benar-benar harus dihindari digunung karena orang hanya meremehkan kekuatan awesome cuaca pegunungan. Selalu membawa tempat penampungan darurat, mereka kecil dan ringan tapi dapat penabung kehidupan, melindungi Anda dari elemen cuaca yang tiba-tiba berubah. Ada banyak tersedia tempat penampungan dari hanya dua orang ke tempat penampungan kelompok besar. Beberapa yang terbaik yang tersedia adalah rumah kecil atau Shelter

7. Actions for an emergency / In a mountaineering emergency
Tindakan untuk keadaan darurat /Dalam darurat gunung:
Tidak ada yang ingin berpikir bahwa kecelakaan akan pernah terjadi pada mereka tetapi akan bodoh untuk berpikir bahwa ini akan selalu terjadi. Luangkan waktu untuk mempersiapkan, dan tindakan praktek pada berbagai jenis keadaan darurat. Kebiasaan Tingkat tinggi dari pelatihan berarti Anda akan bereaksi tanpa berpikir, yang menguntungkan karena kemampuan pengambilan keputusan yang sangat terganggu pada kondisi stress dapat terhindari
* Jangan tergesa-gesa dan tetap tenang. Kalau tidak, kecelakaan kecil bisa berkembang menjadi insiden besar.
* Cepat menilai kondisi korban itu.
* Menentukan apakah mereka dapat diperlakukan dan dievakuasi oleh kelompok anda atau jika diperlukan bantuan dari luar.
* Panggilan untuk bantuan eksternal jika diperlukan dengan menggunakan ponsel Anda. Jika Anda tidak memiliki sinyal jaringan maka seseorang perlu meninggalkan untuk mendapatkan bantuan.
* Jangan pernah meninggalkan korban seorang tanpa pengawasan kecuali benar-benar tak bisa dihindari yaitu jika pendakian sebagai pasangan / 2 orang saja. Setidaknya dua orang cocok dan anggota yang dapat diandalkan kelompok harus dikirim mencari bantuan. Tuliskan referensi-grid dan deskripsi lokasi maupun luka-luka korban untuk dibawa ke jasa penyelamatan. (Sebuah penerima data lokasi dengan GPS dapat membuktikan harga yang tak ternilai dalam menentukan lokasi anda yang tepat untuk memberi untuk menyelamatkan tim).
* Pindahkan korban ke tempat hunian / aman dan tetap hangat, terhidrasi dan meyakinkan. Namun, JANGAN PERNAH memindahkan korban jika Anda mencurigai adanya cedera tulang belakang.
* Tidak pernah bergerak jauh dari rute pendakian Anda karena akan memudahkan tim penyelamat menemukan di mana anda dan akan memfokuskan pencarian mereka pada satu titik Jika Anda perlu menemukan penampungan kemudian meninggalkan tanda yang menunjukkan arah ke tim penyelamatan.

8 Emergency communications: Darurat komunikasi:
Selalu mudah mengambil telepon mobile Anda atau alat komunikasi lain(disegel dalam tas tahan air) saat Anda mendaki gunung. Dalam keadaan darurat akan menghemat waktu yang berharga jika Anda dapat menghubungi layanan darurat segera. Sadarilah bahwa kekuatan sinyal jaringan selular dapat tidak ada di beberapa daerah terpencil. Untuk radio ekspedisi tersebut penting karena mereka memungkinkan anggota kelompok untuk berkomunikasi ketika keluar dari tempat satu sama lain di gunung, tetapi juga untuk radio untuk bantuan jika diperlukan.

9 Be safe… Aman …
Gunuung adalah hobi menyenangkan tetapi ada bahaya yang tak terelakkan yang terlibat. Risiko kecelakaan atau cedera akan sangat berkurang jika Anda memulai dengan perencanaan, mudah menentukan arah dan kemudian secara bertahap meningkatkan keparahan rute Anda sebagai pengalaman dan tumbuhnya kepercayaan anda. Jika Anda menekan terlalu keras terlalu cepat ( memaksakan ) dalam perjalanan, maka kecelakaan tak terelakkan dapat terjadi, tempatkan diri Anda, tim penyelamat dan pendaki lain semua berisiko. Rencana menurut kemampuan Anda dan selalu kemampuan anggota terlemah dalam kelompok.

10 First aid / Pertolongan pertama pd kecelakaan
Hal ini juga bernilai dengan meluangkan waktu untuk melakukan investasi di sejumlah bantuan pelatihan dasar pertama karena hal ini berguna untuk memiliki pengetahuan (tidak hanya untuk mendaki gunung tapi untuk kejadian setiap hari). Program yang sangat terjangkau, mudah untuk belajar dan singkat waktu, tetapi dapat membuktikan harga tak ternilai di atas bukit atau pada waktu lainnya.  Selalu membawa kit fid pribadi pertama (pemimpin gunung selalu akan membawa kit lebih komprehensif).

Sumber http://realbuzz.com

Danau Gunung Tujuh>>Tertinggi di Asia

Image

Image

Danau Gunung Tujuh adalah objek wisata paling favorit di Kabupaten Kerinci dan sekitarnyadi dukung oleh panorama yang indah dan udara yang sejuk. Dengan ketinggian 2.732 meter dpl, menjadikan danau ini sebagai danau tertinggi di Asia Tenggara.
Kawasan Gunung Kerinci rame pada musim liburan sekolah, banyak rombongan pelajar yang memilih mengisi liburan di danau Gunung Tujuh dan melakukan pendakian ke puncak Gunung Kerinci 3805 Mdpl yang merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Indonesia.
Bagi para pendaki, melakukan pendakian ke Gunung Kerinci dengan puncaknya di ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (dpl) mcmang melelahkan, tapi sekaligus juga menjadi tantangan. Meski terlihat begitu dekat dari salah satu punggung Gunung Tujuh, jalan menuju puncak Gunung Kerinci lumayan berliku. Kemiringan jalur pendakian berupa jalan setapak yang menanjak yang mencapai 50-60 derajat sangat menguras stamina. Rasa lelah itu seakan lenyap ketika tiba di lokasi tujuan wisata yang ada di kawasan Gunung Tujuh, yakni sebuah danau yang disebut Danau Gunung Tujuh. Selain alamnya yang asri, panorama di danau yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) ini demikian indah.
Selain melakukan pendakian, tidak sedikit pengunjung yang datang hanya untuk menikmati suasana alami di kaki gunung. Setiap akhir pekan, banyak wisatawan lokal yang melakukan pendakian ke Danau Gunung Tujuh. Mereka tidak hanya berasal dari Kerinci, melainkan juga wisatawan yang datang dari luar daerah. Tidaklah heran jika setiap hari Sabtu-Minggu, banyak tenda-tenda kemah yang berdiri di sekitar pos jaga. Obyek wisata ini berjarak lebih kurang 51 km dari Sungai Penuh, ibukota Kabupaten Kerinci.
Secara ilmiah, Danau Gunung Tujuh merupakan danau vulkanik yang terbentuk akibat kegiatan gunung berapi di masa lampau. Memiliki ukuran panjang sekitar 4,5 km dan lebar 3 km, danau yang berada di 2.732 meter dpl meter dpl ini merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara.
Bagi pencinta wisata alam sekaligus petualangan, Danau Gunung Tujuh merupakan objek wisata favorit di Jambi dan sekitarnya. Selain panorama alamnya yang indah, danau ini dikelilingi oleh enam gunung, yaitu Gunung Hulu Tebo dengan ketinggian 2.525 meter dpl, Gunung Hulu Sangir (2.330 meter dpl), Gunung Mandura Besi (2.418 meter dpl), Gunung Selasih (2.230 meter dpl), Gunung Jar Panggang (2.469 meter dpl), dan Gunung Tujuh (2.732 meter dpl) yang puncaknya paling tinggi.
Bukan cuma itu, sebagai kawasan yang menjadi salah satu sentra keanekaragaman hayati, Danau Gunung Tujuh juga sering dikunjungi para pencinta dan peneliti flora dan fauna. Di kawasan ini hidup berbagai jenis satwa khas TNKS seperti harimau
sumatera (Panthers tigru surnatrensis), siamang, beruang madu, babi hutan, tapir, bcrmacam burung, dan berbagai jenis kupu-kupu. Tumbuhan yang hidup di kawasan ini pun beragam dengan primadona berbagai jenis anggrek alam dan bunga kantong semar.
Panorama alam menawan lain yang dapat dinikmati di kawasan ini adalah Air Terjun Gunung Tujuh. Air terjun dengan ketinggian puluhan meter itu bersumber dari Danau Gunung Tujuh. Pengunjung yang ingin mencapai air terjun ini bisa melalui jalur setapak tidak jauh dari bekas wisma peristirahatan di dekat pos jaga di kaki gunung.
Ada beberapa alternatif jalur pendakian ke Danau Gunung Tujuh. Salah satunya dan paling banyak ditempuh adalah melalui gerbang Pos TNKS di Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Di desa berketinggian 1.600 meter dpl itu udara terasa dingin, terlebih lagi karena angin selalu bertiup kencang. Sehingga pengunjung disarankan untuk membawa jaket atau baju tebal.
Sebagaimana daerah pegunungan pada umumnya, pada malam hari, suhu udara di sekitar pos pendakian ini terasa sangat dingin. Tanpa mengenakan jaket tebal, kaus kaki, dan selimut tebal, jangan harap bisa tidur nyenyak karena dinginnya udara. Angin dingin yang bertiup terasa menusuk tulang.
Bagi pengunjung yang hendak mendaki ke Danau Gunung Tujuh lebih pagi, bisa memanfaatkan rumah penduduk di sekitar pos. Rumah tinggal yang sekaligus menjadi homestay tersebut bisa dipesan sebelum hari kedatangan, atau pada hari kedatangan itu juga jika kebetulan tidak ada pengunjung yang menginap. Selain di sekitar pos, pengunjung pula bisa menginap di beberapa homestay di Desa Kersik Tuo yang terletak beberapa kilometer dari Pelompek.
Dengan segala keindahan alam yang disimpannya, kawasan Danau Gunung Tujuh terlihat masih utuh dan lestari, karena belum terusik tangan-tangan jahil. Kondisi ini tak lepas dari pesan pihak Balai TNKS yang senantiasa mengingatkan pengunjung agar tidak mengambil, menangkap, atau membawa keanekaragaman hayati yang dimiliki kawasan ini.

sumber – http://jambiglobal.com

Jayawijaya

Pegunungan Jayawijaya adalah nama untuk deretan pegunungan yang terbentang memanjang di tengah provinsi Papua Barat dan Papua (Indonesia) hingga Papua Newguinea di Pulau Irian. Sebelum penyatuan Papua Barat ke Indonesia, pegunungan ini dikenal dengan nama Pengunungan Orange. Deretan Pegunungan yang mempunyai beberapa puncak tertinggi di Indonesia ini terbentuk karena pengangkatan dasar laut ribuan tahun silam. Meski berada di ketinggian 4.800 mdpl, fosil kerang laut, misalnya, dapat dilihat pada batuan gamping dan klastik yang terdapat di Pegunungan Jayawijaya. Karena itu, selain menjadi surganya para pendaki, Pegunungan Jayawijaya juga menjadi surganya para peneliti geologidunia.

Pegunungan Jayawijaya juga merupakan satu-satunya pegunungan dan gunung di Indonesia yang memiliki puncak yang tertutup oleh salju abadi. Meskipun tidak seluruh puncak dari gugusan Pegunungan Jayawijaya yang memiliki salju. Salju yang dimiliki oleh beberapa puncak bahkan saat ini sudah hilang karena perubahan cuaca secara global.

Sejarah terbentuknya Pegunungan Jayawijaya

Menurut teori geologi, awalnya dunia hanya memiliki sebuah benua yang bernama Pangea pada 250 juta tahun lalu. Benua Pangea pecah menjadi dua dengan membentuk benuaLaurasia dan benua Eurasia. Benua Eurasia pecah kembali menjadi benua Gonwana yang di kemudian hari akan menjadi daratan Amerika SelatanAfrikaIndia, dan Australia.

Pengendapan yang sangat intensif terjadi di benua Australia, ditambah terjadinya tumbukan lempeng antara lempeng Indo-Pasifik dengan Indo-Australia di dasar laut. Tumbukan lempeng ini menghasilkan busur pulau, yang juga menjadi cikal bakal dari pulau dan pegunungan di Papua.

Akibat proses pengangkatan yang terus-menerus, sedimentasi dan disertai kejadian tektonik bawah laut, dalam kurun waktu jutaan tahun menghasilkan pegunungan tinggi seperti yang bisa dilihat saat ini.

Bukti bahwa Pulau Papua beserta pegunungan tingginya pernah menjadi bagian dari dasar laut yang dalam dapat dilihat dari fosil yang tertinggal di bebatuan Jayawijaya.

 

Puncak-puncak Jayawijaya

Para ahli geologi dari Ohio State University memperkirakan gletser yang ada di pegunungan Puncak Jaya, Papua, terancam hilang karena mencair. Salju di pegunungan itu mencair karena pemanasan global. “Diperkirakan esnya akan bertahan beberapa tahun lagi,” kata Lonnie Thompson, peneliti senior dari pusat riset Ohio State’s Byrd Polar, yang juga profesor dari School of Earth Sciences.
 
Menurut Thomson, salju yang menutupi pegunungan Puncak Jaya mulai menyusut beberapa tahun terakhir. Dari hasil citra satelit menunjukkan luasan es di pegunungan itu telah hilang sekitar 80 persen sejak 1936 atau dua pertiga dari ekspedisi ilmiah terakhir yang dilakukan di tempat itu pada awal 1970.

Perkiraan itu dinyatakan Thompson setelah dia mengambil tiga sampel inti es dari Pegunungan Puncak Jaya. Penelitian, yang merupakan hasil kerja bareng National Science Foundation, perusahaan tambang Freeport, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ini mengebor inti es yang bersemayam di Puncak Jaya dengan ketinggian 16 ribu kaki, menjadi tiga batuan dasar. Es yang pertama sepanjang 30 meter, es kedua 32 meter,m dan es ketiga sepanjang 26 meter.

Menurut Thompson, yang telah melakukan lebih dari 57 ekspedisi ke pegunungan bersalju, panjang inti es yang ada di Puncak Jaya, Papua, lebih pendek ketimbang inti es di beberapa pegunungan lainnya. Dia mencontohkan, ketika mengambil inti es dari Hualcán, yang ada di Pegunungan Andes Peru, sebelah timur Samudra Pasifik, pada 1993, Thompson membawa inti es sepanjang 189 meter dan 195 meter. Lantaran pendeknya inti es yang ada di Puncak Jaya, Thomson memperkirakan salju yang menutupi pegunungan itu akan hilang dalam beberapa tahun ke depan.

Ketika hendak mengambil inti es di Puncak Jaya, Thomson beserta tim sempat dilarang empat suku yang tinggal di kawasan tersebut. Mereka mengklaim bahwa inti es yang hendak diambil peneliti merupakan tengkorak dewa mereka dengan lengan dan kaki berupa gunung-gunung yang ada di sekitarnya. “Kami dianggap hendak mencuri ‘harta’ kepercayaan mereka,” katanya.

Para penduduk itu yakin bahwa mereka dan inti es itu adalah bagian dari alam. Jika inti es hilang, penduduk beranggapan jiwa mereka juga akan hilang. Untuk mengantisipasi perlawanan dari empat suku tersebut, Freeport kemudian membuka sebuah forum publik yang dihadiri 100-an warga dari empat suku itu. Pada kesempatan tersebut para peneliti menjelaskan pentingnya pengambilan inti es untuk mengetahui perubahan iklim global. Setelah berdiskusi selama empat setengah jam, akhirnya masyarakat membolehkan inti es diambil untuk diteliti.

Inti es dari Puncak Jaya, Papua, ini diharapkan dapat menambah catatan mengenai El Nino-Southern Oscillation (ENSO) atau fenomena perubahan iklim ekstrem yang dominan di daerah tropis. Selain mengambil inti es, tim mengumpulkan sampel air hujan dari berbagai lokasi, mulai kaki gunung hingga puncak pegunungan.

Dalam penelitian ini nantinya akan diketahui besarnya isotop oksigen dan hidrogen dari inti es dan air hujan yang menandakan perubahan suhu. Apabila di dalam inti es dan air hujan terdapat debu, artinya terjadi peningkatan kejadian kebakaran atau pembakaran hutan di sekitar gunung.

Pendakian Ke Jaya Wijaya

Bagi pendaki gunung, mendaki jajaran pegunungan Jayawijaya dan Sudirman (Carstensz Pyramide), Irian Jaya, adalah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu (Sudirman) terdapat titik tertinggi di Indonesia. Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) menyimpan banyak keunikan dan tantangan. Bukan hanya karena puncaknya diselimuti salju tropis tetapi termasuk dalam deretan 7 (tujuh) puncak benua.
 
Jangan heran bila pendaki-pendaki papan atas kelas dunia berlomba untuk mendaki puncak tertinggi di Australasia ini. Tak kurang dari Heinrich Harrer si pendaki yang hidupnya diperankan Brad Pitt dalam Seven Years In Tibet menjadi orang pertama yang mendaki Carstensz Pyramid. Kemudian Reinhold Messner pendaki pertama yang mencapai 14 puncak di atas 8.000 meter.
 
Pat Morrow yang mencanangkan Carstensz Pyramid sebagai satu dari tujuh puncak di tujuh benua bumi ini. Irian itu bagian dari benua Australasia katanya. Ini mengakibat pendaki-pendaki kelas dunia berbondong-bondong mengikuti jejaknya di antaranya pendaki wanita pertama Everest Junko Tabei pernah menjamah puncak ini.
Sayang, prosedur izin yang harus dimiliki membuat banyak pendaki harus mengurungkan niatnya untuk berekspedisi. Apalagi wilayah pegunungan tengah Irian Jaya sempat tertutup untuk pendakian sejak kasus penculikan di Mapenduma 1995 – 1996.
 
Izin Mendaki yang Rumit
 
Di kalangan pendaki gunung di Indonesia ada satir tentang pendakian gunung di Irian Jaya. ”Lebih sulit mengurus izinnya daripada mendaki gunungnya,” keluh mereka. Izin pendakian gunung-utamanya ke Carstensz Pyramide – di Irian Jaya memang rumit dan tidak jelas. Tidak ada selembar surat izin yang sah seperti misalnya pendakian di Nepal di mana pendaki diberikan semacam paspor selembar lengkap dengan foto dan keterangan izin mendaki puncak ketinggian berapa di daerah mana.
 
Di Nepal ketika berhasil dan bisa menyerahkan bukti pun Departemen Pariwisata yang menangani izin ini mengeluarkan surat keterangan kesuksesan pendaki. Ketidakjelasan ini-hal yang biasa terjadi selama Orde Baru-selama bertahun-tahun bertahan dengan alasan klasik, keamanan.
 
Galih Donikara, seorang senior Wanadri menyebutkan untuk mendaki gunung ini harus memiliki rekomendasi dari kantor Menpora, Kapolri, BIA-intelejen Indonesia, Menhutbun/PKA, PT Freeport Indonesia (PTFI).
Kalau mau lewat Tembagapura ditambah dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Itu semua harus diurus di Jakarta. Lalu di Jayapura, rekomendasi dari Bakorstranasda dan Kapolda harus dikantongi. Di Timika, rekomendasi EPO dan izin PTFI untuk fasilitas lintasan.
 
”Terakhir di Tembagapura, koordinasi dengan Emergency Response Group (ERG) untuk penanganan Emergency Procedur dan aparat Satgaspam untuk masalah keamanan lintasan,” jelas pendaki gunung yang sempat tergabung dalam ekspedisi Indonesia-Everest ’97 ini. Galih mencapai puncak Carstensz Pyramid bersama tim Cina pada awal tahun Millenium ini. Bersama beberapa pendaki sipil dan militer, mereka menggunakan rute Timika lewat Tembagapura untuk mencapai kemah induk.
 
Jika lewat Nabire, surat dari Bakorstranasda dan Polda Irian Jaya harus dilaporkan ke Polres Paniai dan Kodim Nabire, yang keduanya ada di kota Nabire. Lalu terakhir di Ilaga, semua surat rekomendasi diberikan ke Tripika setempat (Ilaga) yaitu Polsek, Koramil dan Camat.
 
Tapi tunggu dulu, ketiga pimpinan tersebut akan memutuskan bisa atau tidaknya pendaki meneruskan ekspedisi. Semuanya tergantung dengan situasi keamanan pada saat itu. Bila sedang tidak ada bahaya yang dapat mengancam keselamatan pendaki seperti perang suku, maka pendaki boleh segera mulai. Nah itulah daftar panjang surat rekomendasi untuk mendaki atap Indonesia itu. Rumit dan repot.
 
Bambang Hertadi Mas, petualang dan pesepeda jarak jauh kawakan, sempat mengurungkan niatnya untuk berekspedisi ke puncak Carstensz Pyramide, gara-gara sulitnya mengurus izin pendakian itu. Paimo, panggilan akrab Bambang, lebih memilih memanjat Gunung Kilimanjaro, di benua Afrika untuk ekspedisi tahun 1987. ”Mending sekalian ke luar (negeri), toh ongkos dan susahnya proses perizinan relatif tidak jauh berbeda,” begitu komentar Paimo waktu itu.
 
Sebagian besar pemandu gunung, pendaki profesional sampai kelas amatiran, harus menelan kekecewaan. Padahal menurut mereka, banyak sekali turis-turis mancanegara yang ingin menggapai salju putih di kawasan tropis. Kegamangan masalah politik bumi Cendrawasih ini juga mengganggu upaya untuk menjadikan Carstensz Pyramid dan pegunungan Sudirman sebagai tujuan wisata yang bisa jadi andalan Papua. Bagi sebagian orang, Carstensz merupakan sumber rezeki tersendiri dan punya nilai jual yang tinggi.
 
Kelangkaan informasi tentang kedua pegunungan itu juga menjadikan minat terhadap pendakian gunung di Irian Jaya-utamanya Carstensz Pyramide-harus surut di tengah jalan. Kecuali, bagi para pendaki yang cukup dana dan pengalaman. Tak banyak buku-buku ”keluaran” negeri sendiri yang benar-benar menceritakan nikmatnya bertualang menggapai atap Indonesia itu. Paling-paling hanyalah beberapa bentuk tulisan hasil ekspedisi ke sana. Akhirnya, pendaki-pendaki lokal harus pontang-panting mencari informasi ke beberapa perkumpulan pencinta alam ternama dan berpengalaman di negeri ini. Tapi itu mungkin tidak seberapa rumit jika dibandingkan dengan mengurus perizinannya. Sampai kapan?
 

Gunung Binaia

Gunung Binaia adalah sebuah gunung yang terletak di Pulau SeramMaluku di negara Indonesia.

Gunung Binaia mempunyai ketinggian setinggi 2.940 meter daripada aras laut dan mempunyai Hutan Montane dan Hutan Ericaceous.

Image

Foto Selengkapnya

oleh: Dharma Wijayanto – Maluku

Matahari pagi dipuncak Gunung Binaiya yang menyinari tumbuhan Pakis Savana Pakis di ketinggian 3027 MdplPakis Binaiya dengan latar belakang Gunung MorokeleBatang Pakis binaiya
 
 Puncak Gunung Binaiya memiliki jenis tumbuhan endemik khas yaitu pohon pakis yang hanya tumbuh di Savana Nusa Ina.

Uniknya, pakis ini bisa tumbuh di lahan bebatuan keras. Batangnya yang terlihat rapuh namun bisa menahan hembusan angin hingga kekuatan 60-80 knot. Bahkan badai sekali pun tidak bisa merobohkan tumbuhan endemik ini yang rata-rata memiliki tinggi 3-5 meter.

Daunnya menjadi makan favorit rusa. Jenis hewan yang banyak berkeliaran secara liar di Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku. Tak heran jika areal puncak banyak ditemui kotoran rusa.

Hingga saat ini, masih sedikit penelitian tentang jenis tumbuhan ini. Ekspedisi Operation Raliegh yang dilakukan oleh ilmuan Inggris masih sebatas pencatatan data mengenai tumbuhan yang ada di Taman Nasional Manusela.

String Line, sebagai penanda jalur pendakian
 

Foto Selengkapnya

String Line, sebagai penanda jalur pendakian Mendaki di kemiringan 80 derajatMembuat coakan baru pada batang pohon sebagai tanda jalur yang baru saja dilewatiBeban berat akrab dan jalur menanjak akrab dengan para pemburu keindahan
 
 

Jalur pendakian menuju puncak Gunung Binaiya ternyata memiliki keunikan tersendiri. Vegetasi hutan tropis yang berselimut dengan lumut membuat areal disekitarnya terasa lembab. Jalan setapak dengan kemiringan hampir 80 derajat menjadi tantangan terbesar bagi para pendaki yang hendak meraih puncak Nusa Ina. Tidak ada jalur rata dan sumber mata air, daya tahan fisik dan semangat sebagai modal utama dalam menapaki puncaknya.

Banyak dari beberapa jalur yang hampir sama dan membingungkan, tak ayal beberapa diantara kami termasuk saya tersesat ketika mendaki. Hal ini dikarenakan bentuk pepohonan yang hampir sama dan minimnya String Line (Sebuah tanda pada jalur pendakian). Minimnya tanda-tanda tersebut sangat membahayakan, karena itu kami harus berjalan bersamaan dan rajin menghitung jumlah orang dalam pendakian ini. 

Sesekali kami harus mengikuti ritme para pendamping yang berjalan cepat dan sering kali harus sabar menunggu beberapa teman yang kelelahan. Tanda-tanda pada jalur tidak sebagaimana mestinya penunjuk arah seperti di jalan raya perkotaan. Tali rafia, pita dan coakan pada batang pohon yang menjadi penuntun arah jalurnya. Butuh kejelian mata dalam berjalan, tentunya hal ini sangat berisiko bagi kami dan para pendaki lainnya. 

Kram pada paha kaki menjadi momok menakutkan dalam perjalanan ini, beruntung kami semua diberikan kekuatan untuk terus berjalan. Mamay, salah satu pendamping kami terkena penyakit ini. Dirinya menceritakan sudah hampir empat tahun mengalami kram paha sejak mengikuti pendakian massal ke Gunung Cartenz, Papua.

Meski tenaga habis terkuras, namun rasa puas ketika melihat vegetasi hutan mulai terbuka. Artinya kami sudah semakin dekat dengan puncak. Ini ditandai dengan pepohonan di sekitar tidak terlalu tinggi dan tidak rapat. Batuan karts yang berselimut kabut seolah menunjukan keindahannya secara perlahan. Belum lagi lumut-lumut yang menggantung dan berwarna putih kehijauan sebagai interior alam dari ciptaan yang maha kuasa.

Inilah Binaiya, meski jalur pendakiannya ganas namun memiliki keindahan alam beserta panoramanya dengan rendah hati.

Lumut-lumut Wai Huhu
 
 

Foto Selengkapnya

Lumut-lumut Wai HuhuParang, benda wajib untuk mencari kayu bakar Perapian menjadi wajib di Wai HuhuTempat terindah
 
 

Perjalanan menuju puncak Gunung Binaiya selalu menceritakan keindahan alam yang berbeda, vegetasi hutan tropis yang akrab dengan curah hujan tak menentu membuat pepohonan disekitar jalur pendakian dipenuhi lumut. Hal ini membuat kami harus bermalam dibawah rimbunan parasit hijau pada sebuah camp yang bernama Wai Huhu. 

Rimbunan lumut ini mulai terasa ketika memulai pendakian dari Dusun Kanikeh yang juga merupakan titik awal menuju hutan Binaiya. Diawal perjalanan kami, jalur lumpur sedalam 30 Cm menjadi kejutan pertama. Belum lagi ditambah dengan serbuan pacet (sejenis lintah) yang selalu hinggap dikulit kemudian perlahan menghisap darah.

Sekilas terlihat berat sekali medan yang ditempuh belum lagi beban peralatan yang kami bawa membuat langkah di jalur ini semakin berat dan menguras tenaga. Keringat terus mengalir hingga membasahi pakaian. Namun semangat untuk mengibarkan Merah Putih di Puncak Nusa Ina seolah melunturkan itu semua. 

Usai melewati jalur lumpur, tiba saatnya kami berhati-dengan jalan bebatuan dan berlumut. Sepatu semahal apapun pasti akan akan terasa licin ketika melewati jalur ini, butuh kecermatan dan kejelian dalam berjalan. Begitu juga dengan tempo pernafasan, mengingat pada jalur lumut ini berada di kemiringan 60 derajat menanjak. 

Setelah berjalan hampir berjalan hampir tujuh jam lamanya, sensasi petualangan semakin menantang. Kami harus melewati bebatuan sungai kering dengan cara memanjatnya, belum lagi ditambah hujan deras yang membuat batuan tesebut licin. Brama ketika itu berteriak kegirangan sekaligus takjub setelah berhasil mencapai puncak bebatuan. “Baru kali coyyyy…..gw kaya begini, Binaiya edan” Ucapnya dengan nafas kecapaian. 

Tak lama berselang tibalah kami di camp Wai Huhu yang berada diketinggian 2080 Mdpl. Camp ini merupakan sebuah dataran kecil dan tidak begitu lebar sekitar 10×6 meter dengan countur tanah bergelombang. Camp ini biasa digunakan pendaki dan para pemburu dari Dusun Kanikeh sebagai tempat peristirahatan, mengingat camp ini memiliki sumber mata air yang jernih. 

Kala itu pukul 17.15 WITA, rasa lelah dan menggigil mengahampiri kami bertiga dan sembilan rekan pendamping perjalanan. Tak mau menunggu lama tenda segera dipasang, kabut semakin turun dan membuat kami harus bergerak cepat untuk menghangatkan badan.

Rimbunan pepohonan disini pun terlihat rapat, karena tumbuhan parasit hijau ini hampir menutupi lapisan tanah. Sehingga sinar matahari sulit untuk menembus kepermukaan. Terasa lembab, dingin dan dipenuhi nyamuk.

Hutan tropis, nyamuk, hujan, lumpur dan lumut seakan menunjukan hebatnya petualangan yang kami lakukan. Alam selalu memanjakan kita dengan keindahannya, begitu juga dengan perjalanan ini yang harus menempuh medan pendakian yang berat, namun terasa indah ketika kami bercerita di dalam hangatnya tenda dan segelas kopi hangat.

Gunung Latimojong

Gunung di Kabupaten EnrekangSulawesi SelatanIndonesia. Gunung Latimojong berada di tengah-tengah Sulawesi Selatan. Sebagian besar pengunungan ini terletak di daerah Kabupaten Enrekang.

Gunung Latimojong merupakan gunung yang tertinggi di Sulawesi Selatan dengan ketinggian 3.680 meter, puncaknya yang bernama Rante Kambola. Pegunungan Latimojong ini membentang dari selatan ke utara. Di sebelah barat Gunung Latimojong adalah Kabupaten Enrekang, sebelah utara Kabupaten Tana Toraja, sebelah selatan adalah daerah Kabupaten Sidenreng Rappangdan area sebelah timur seluruhnya wilayah Kabupaten Luwu sampai di pinggir pantai Teluk Bone.

Perjalanan

Latimojong adalah gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, yang memiliki tujuh puncak, dengan puncak tertinggi Rante Mario dan memiliki ketinggian 3.680 meter di atas permukaan laut. Membentang dari selatan ke utara, Latimojong sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Enrekang, sebelah utara dengan Tana Toraja, sebelah Selatan dengan Kabupaten Sidrap, dan sebelah timur dengan Luwu sampai pinggir pantai Teluk Bone.

Pendakian ke puncak Latimojong itu kami mulai pada 14 Agustus 2007. Dari truk yang melaju di jalan beraspal, terlihat pemandangan rumah panggung berjejer. Hasil pertanian, seperti kopi, dijemur di halaman. Rumah-rumah itu dibatasi oleh kebun salak. Kabupaten Enrekang memang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil salak di Sulawesi Selatan.

Dari kejauhan terlihat bukit-bukit batu terjal, yang berada diantara bukit-bukit hijau. Jalan semakin menanjak. Setelah sekitar satu jam perjalanan, truk meninggalkan jalan beraspal dan mulailah melaju di jalan berbatu, kemudian jalan tanah.

Adrenalin kami mulai terpacu saat melihat jalan licin dan becek, sedangkan di sisi kiri jurang menganga dalam dan sisi kanan tebing tinggi. Jalan bergelombang itu pun ikut mengocok-ngocok kami. Akibatnya, kami terbanting kesana-kemari meski telah berpegangan erat serta memaksa sopir truk bekerja ekstrakeras.

Terhalang kubangan lumpur yang sulit dilalui, perjalanan terhenti sejenak untuk memperbaiki jalan: menggali gundukan tanah dan mencari batu untuk ditaruh dibalik ban mobil yang tertanam di lumpur. Bahkan sempat juga truk melewati sungai tanpa jembatan, seperti arena off-road.

Setelah lebih dari tiga jam terguncang-guncang di atas truk, kami pun tiba di Rante Lemo, desa terakhir yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Waktu menunjukkan pukul 14.15 Wita. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui jalan setapak.

Sebuah ekskavator tampak terguling ke dasar jurang. Menurut Ully, pemandu jalan dari KPA Lembayung, ekskavator itu tertimpa batu besar dan jatuh ke jurang berkedalaman lebih dari 50 meter. “Kecelakaan itu terjadi pekan lalu, saat para pekerja membuka akses jalan,” kata Ully.

Tak terasa jarak 10 kilometer kami tempuh selama dua jam berjalan kaki dan sampailah kami di Dusun Karangan, Desa Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, Enrekang. Inilah dusun terakhir sebelum mendaki Gunung Latimojong. Hari sudah gelap, kami menginap semalam di rumah kepala dusun.

Walau terpencil, penduduk dusun itu dapat menikmati penerangan listrik. Namun, bukan dari PLN. Secara swadaya, masyarakat memanfaatkan aliran sungai dan memasang kincir air yang menghasilkan daya, kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga.

“Jadi di sini penduduk tidak perlu membayar listrik karena ini diusahakan oleh warga sendiri. Lucunya, kadang nyala lampu sayng sangat terang tiba-tiba redup, bergantung pada deras arus yang memutar kincir,” ujar Tahir, Kepala Dusun Karangan.

Esok paginya, pendakian dimulai. Dengan memanggul ransel masing-masing, kami berjalan melalui jalan setapak meninggalkan Dusun Karangan menuju puncak Latimojong.

Belum jauh dari dusun, terhampar pemandangan pohon-pohon kopi di sisi kiri dan kanan jalan setapak, dengan buahnya yang merah mencolok. Tampak puka karung yang berisi biji-biji kopi yang baru dipanen.

Medan makin menanjak. Meski belum berjalan terlalu jauh, napas sudah tidak beraturan. Sebelum tiba di Buntu Kacillin, sebutan untuk pos I, perjalanan harus menyeberangi dua sungai dengan meniti beberapa batang pohon yang melintang di atas sungai. Kemudian kami melalui beberapa lahan yang baru dibuka oleh warga untuk perkebunan kopi.

Dari sana, jauh di bawah, tampak indahnya pemandangan yang hijau, dan dari kejauhan tampak desa-desa permukiman warga setempat.

Selanjutnya adalah wilayah hutan lebat. Kondisi jalan pun sudah mulai tidak bersahabat. Bahkan terkadang kami harus meniti pinggiran jurang dengan berpegangan pada akar-akar pohon. Rasa takut kadang tiba-tiba datang jika melihat ke bawah jurang. Saya harus memakai kaus tangan agar tangan tidak terluka saat berpegangan pada akar-akar pohon.

Di hutan ini terdapat banyak pohon rotan. Para pemandu menyarankan untuk membuat gelang dari rotan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, mengenakan gelang rotan bisa melindungi dari gangguan “para penunggu”. Gelang rotan ini juga merupakan simbol bahwa kita bertamu secara baik dan diterima warga setempat. Konon, gelang rotan ini adalah simbol leluhur warga setempat, yakni Nenek Janggok Riri, bersama istrinya, Nenek Menga.

Selain memakai gelang rotan, tanda-tanda alam juga harus diperhatikan. Konon, jika kita sedang dalam perjalanan mendaki Gunung Latimojong dan mendengar kicauan burung, itu pertanda bagus dan kita bisa melanjutkan perjalanan. Sebaliknya, jika kita mendengar suara sengatan lebah, sebaiknya kita kembali dan tidak melanjutkan perjalanan karena itu merupakan pertanda buruk.

Menuju Sarungpa’pa-sebutan untuk Pos II-jalan tidak selalu mendaki. Semakin dekat menuju Pos II, jalan menurun dan licin karena lembap. Sarungpa’pa berada di pinggir sungai. Tidak begitu luas, hanya berupa bongkahan batu besar yang agak lapang dan gua batu terbuka. Namun, tempat ini menjadi salah satu pilihan bagi pendaki untuk beristirahat, bahkan menginap karena dekat dengan sumber air.

Medan berikutnya menuju To’nase (Pos III) sangat sulit walau jarak tempuhnya pendek. Tebing dengan rata-rata kemiringan 70-85 derajat, belum lagi kondisi tanah yang licin, mengharuskan kami untuk memanjatnya. Namun, di sinilah etape perjalanan paling seru meski sangat berbahaya.

“Awas, batu. Ada batu,” terdengar teriakan dari atas, mengingatkan kami bahwa ada batu jatuh. Kami yang berada di bawah pun ekstrahati-hati agar tidak terkena batu.

Melintasi etape itu, beberapa orang terpaksa ditarik dengan menggunakan tali. “Meski berbahaya, saya sangat suka karena menantang,” kata Mang Kus dari Karpala Kalfa.

Perjalanan menuju Pe’uwean (Pos IV)-setelah beristirahat sejenak di To’nase-lebih bersahabat meski mendaki. Akar-akar pohon sebagai tumpuan dan pegangan tersusun lebih rapi. Begitu pula dengan batang pohon yang menjadi tumpuan alternatif. Kondisi hutan pun makin lebat dan lembap. Kabut sempat turun beberapa saat.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 17.20 Wita ketika kami tiba di Pe’uwean, yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Suasana makin mencekam saat kabut turun yang makin membatasi jarak pandang. Apalagi ketika menyusuri hutan semakin dalam, selain kabut dan hutan lebat, jarak pandang terhalang gelapnya malam. Kami pun menggunakan senter kecil sebagai alat penerangan untuk menuntun langkah.

Saya sempat drop ketika rasa lelah, lapar, dan dingin menusuk.Dengan bantuan sekaleng susu dan istirahat sejenak, akhirnya saya dapat melanjutkan pendakian meski dengan ritme lambat dan lebih sering berhenti.

Di antara lebatnya pohon, saya sempat menikmati cahaya bintang-bintang yang bertebaran di langit. “Sangat indah dan mata rasanya tak ingin berpaling. Pemandangan seperti ini jarang kita temui jika kita bermukim di kota besar,” kata saya kepada Ully.

Akhirnya sampailah kami di Soloh Tama (Pos V) sekitar pukul 20.30 Wita, tempat kami menginap malam itu di tengah sergapan rasa dingin, meski saya telah memanaskna tubuh di pinggir kobaran api. Di sekitar tempat itu ada sebuah sungai, yang untuk mencapainya harus melewati medan yang terjal dan licin.

Perjalanan menuju puncak Rante Mario dilanjutkan esok paginya. Pos demi pos selanjutnya pun kami lalui. Untuk sampai kePaperangian (Pos VI) pun terasa lebih singkat walau medan lumayan licin karena banyak batu besar.

Kondisi hutan di ketinggian sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut terasa lembap. Batang-batang pohon di sekeliling kami ditutupi lumut. Sementara itu, di Buntu Lebu (Pos VII) terdapat bukit-bukit batu dan pohon-pohon kerdil, tempat kami beristirahat setelah mendirikan tenda di tepi sungai kecil.

Perjuangan mencapai puncak Rante Mario akhirnya tercapai setelah mendaki tebing, melalui bukit-bukit batu dan hutan berpohon kerdil. Kami pun langsung menuju titik triangulasi di ketinggian 3.680 meter di atas permukaan laut.

Segala kelelahan terbayar seketika saat melihat pemandangan yang indah, kala matahari beranjak ke arah barat, dengan berkas warna kuning keemasan menerpa awan putih.

Esok Harinya, 17 Agustus 2007, di puncak Latimojong kami melaksanakan upacara Hari Kemerdekaan RI. (Mawar)

Catatan : Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, rubrik Perjalanan, Minggu, 9 September 2007.Image

Bukit Raya

Bukit Raya atau Gunung Raya adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah. Seharusnya puncak tertinggi di pulau ini adalah puncak gunung Kinabalu (4.095 m dpl), akan tetapi berhubung puncak tersebut berada di negeri jiran Malaysia, maka tidak termasuk kedalam kelompok tujuh puncak tertinggi di tujuh kepulauan atau pulau Indonesia.

Untuk itu puncak tertinggi di pulau Kalimantan dipegang oleh puncak Gunung Bukit Raya dengan ketinggian 2.278 meter dari permukaan laut. Gunung ini berada di perbatasan propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan tengah.

puncak bukit raya terletak di Pegunungan Schwaner yang berada pada kawasan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya.

Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya merupakan Kawasan konservasi yang terletak di jantung Pulau Kalimantan. Kawasan ini memiliki peranan penting dalam Fungsi hidrologis sebagai catchment area bagi Daerah Aliran Sungai Melawi di Kalimantan Barat dan Daerah Aliaran Sungai Katingan di kalimantan Tengah. Kawasan hutan Bukit Baka-Bukit Raya Merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan tropika pengunungan yang mendominasi puncak-puncak pegunungan Schwaner